BAGIKAN

Salam angin dingin plus salju memutih dari Negeri Matahari Terbit!

Saat ini sebagian besar wilayah Jepang sedang musim dingin (sebagian kecilnya musim dingin beudh…)

Sekedar informasi, seluruh wilayah Jepang rata-rata mengalami 4 musim, musim dingin, musim semi, musim panas, dan musim gugur. Pada zaman dahulu, penentuan musim ini bisa dengan mudah ditentukan. Tapi, sekarang menjadi sulit karena pengaruh pemanasan global (sepertinya…)

Yaa, mungkin untuk memudahkan penentuan pergantian musim, selain dari perubahan suhu, momen-momen tertentu juga bisa dijadikan patokan. Misalnya, tahun ajaran baru di seluruh Jepang, bulan April, anggap saja sebagai musim semi, dan semester baru di seluruh Jepang, bulan Oktober, anggap saja sebagai musim gugur. Selebihnya, musim dingin dan musim panas adalah ketika suhu mulai tidak bersahabat dengan tubuh tropisku, AC pemanas/pendingin mulai dinyalakan, dan seketika hati mulai gelisah mencari tiket murah.😅😅😅

Begitulah setiap tahun (ehm baru mau masuk tahun ketiga seeh…) kehidupan perempuan tropis ini. Mungkin banyak yang bertanya-tanya, yakin musim dingin atau musim panas bisa pulang kampung alias setiap tahun bisa balik sampai 2 kali.

Hmm, kalau dipikir-pikir uangnya darimana yaa.

Tapi, selain rasa cinta tanah air yang tiada terhingga (Ciee…) alhamdulillah selalu saja ada jalannya.

Tapi, jalan itu tak serta merta ada loh, mesti diusahakan.

Yupz, selain berbekal insting cari tiket murah meriah, sumber dana juga harus ada dan pastikan dana tersebut tidak habis hanya untuk tiket dan kawan-kawannya (oleh-oleh mungkin…)

Ketika saya datang ke Jepang untuk melanjutkan studi tahun 2014, sebagai research student (istilah Jepangnya Kenkyuusei), saya sama sekali tidak punya beasiswa. Hanya berbekal tabungan pas-pasan, nafkah suami, dan beberapa sumbangan lain untuk dapat membiayai minimal 6~12 bulan pertama hidup di Jepang sebagai pelajar. Setelah berhasil masuk program S2 (disini lebih dikenal dengan Master Program), alhamdulillah dapat tawaran beasiswa MEXT untuk 1 tahun ke depan. Cuma untuk 1 tahun, berarti 1 tahun berikutnya saya harus bagaimana? Yupz, selain saya berusaha menabung beasiswa yang ada, saya juga harus mengambil kerja sampingan (istilah jepangnya Baito). Tapi baito yang saya lakukan tidak bisa sebanyak orang lain karena selain kuliah yang menyita waktu, pakaianku juga sedikit membatasi pilihan baito yg bisa saya ambil.

Singkat cerita, pada suatu hari, di kala saya masih khawatir bagaimana saya bisa mencukupi kebutuhan saya selama 1 tahun setelah beasiswa MEXT selesai, datanglah lagi tawaran Leading Program. Sebenarnya tawaran ini sudah dijelaskan pada kegiatan penerimaan mahasiswa baru. Tapi dasar saya yang cuek memperhatikan pamflet karena isinya lem kanji semua, jadilah saya baru tahu kalau di Universitas Nagoya, terdapat beberapa program beasiswa bagi mahasiswa Master Program. Program-program tersebut terhimpun dalam satu forum namanya  The Program for Leading Gradute School (saya lebih sering menyebutnya Leading Program).

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan