Toleransi di Dalam Secangkir Kopi

Toleransi di Dalam Secangkir Kopi

0
BAGIKAN
3 Cangkir Kopi untuk kebersamaan, merayakan persahabatan dan toleransi di Bulan Ramadhan

Seperti biasa, kami selalu menghabiskan waktu di Mensa* setelah seharian mengikuti kuliah dan sudah menjadi rutinitas kami setidaknya 2 kali sepekan, apalagi sebentar lagi Klausurphase* akan dimulai, dimana kami harus mengikuti ujian semester yang cukup membuat kami stress bila tak menyiapkan diri. Setidaknya 6 minggu sebelum ujian, kami sudah harus mulai memahami materi kuliah dan melatih diri mengerjakan soal-soal Übung*.

Sore ini, kami sepakat untuk menikmati secangkir kopi di Mensa Ins Grüne, kantin favorit kami karena interior dipenuhi perabot berwarna hijau, memberikan efek fresh untuk siapapun yang memasukinya.

Layaknya kantin-kantin di kampus Jerman, segala sesuatunya disiapkan ala ‘self-service’. Pun mesin-mesin otomatis yang menyediakan berbagai jenis minuman hangat, dari Capuccino, Macchiato, Latte, Espresso hingga air panas untuk menyeduh coklat atau teh.

Kami tak mengakui diri sebagai pecinta kopi, kami hanya penikmat saja. Bagi kami, kopi bukan soal pekat tidaknya rasa, banyak tidaknya krimer atau gula yang dicampurkan. Tetapi kopi adalah tentang cerita yang kau larutkan dalam kebersamaan, tinggal kau atur saja seberapa banyak manis pahit yang ingin kau tambahkan. Perbedaan rasa tak pernah menjadi umpan untuk berselisih pendapat. Beda selera, beda pola pikir, beda keyakinan, tak membuat kami berdebat berkepanjangan.

(*)

  • Mensa: Kantin
  • Klausurphase: Fase ujian semester
  • Übung: Latihan

1
2
3
BAGIKAN
Berita sebelumyaTips Puasa Ramadhan Saat Summer
Berita berikutnyaCatatan Akhir Kuliah
Menyelesaikan pendidikan di salah satu universitas swasta di Malaysia di bidang Mechanical Engineering. Akhir musim dingin tahun 2012, ia melangkahkan kaki lebih jauh menuju Benua Eropa. Di sebuah universitas di wilayah North Rhein Westphalia, Jerman, ia melanjutkan studinya di jurusan Metallurgy and Metal Forming.   Pecinta pantai dan penikmat senja ini juga suka travelling. Ia menuliskan kisahnya mengunjungi berbagai negara di Eropa dan Afrika dalam sebuah blog.   "Tulis semua mimpi yang kau mau! Biar Tuhan yang menghapus, yang tidak baik untukmu"

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan