Waktu, Hidup dan Perubahan

Waktu, Hidup dan Perubahan

0
BAGIKAN
Bandara di Jerman

Waktu terus berjalan. Hidup terus berputar. Dua kalimat sederhana yang semua orang mengangguk setuju pada kebenaran kalimat-kalimat tersebut.

Waktu terus berjalan! Ya memang begitulah, kita tidak akan pernah bisa meminta waktu untuk berhenti sebentar menunggu kita yang sedang mengejarnya. Hidup terus berputar, memanglah hidup ini terus berputar, banyak hal yang terjadi silih berganti di kehidupan ini. Rasa senang yang datang menggantikan rasa sedih, pertemuan yang menggantikan perpisahan dan berjuta contoh lain yang semakin menguatkan bahwa hidup ini memang berputar.
Namun, apa aku benar-benar secara ikhlas menerima kenyataan bahwa waktu dan hidup mengalir seperti itu? Tidak, itulah jawabanku jika pertanyaan tersebut ditanyakan pada diriku yang dulu.

Tiga tahun sudah aku berada di negeri ini. Negeri yang berjarak 10,781 km dari Jakarta, kota kelahiranku. Disinilah aku sekarang, Jerman, negara industri ini menarik hatiku untuk menimba ilmu. Melanjutkan pendidikan ke jenjang S1. Selain mencari ilmu di kampus, kehidupanku yang jauh dari tanah lahir membuatku belajar lebih banyak tentang diriku sendiri.

Dulu aku selalu merasa bahwa seorang manusia harus selalu menjadi orang yang sama dalam hal apapun. Bila ada yang berkata bahwa diriku telah berubah, aku akan berusaha sekeras mungkin untuk meyakinkan orang tersebut bahwa aku masih orang yang sama. Aku masihlah diriku yang dulu dia kenal. Meskipun ritme kehidupan selalu berubah, namun aku tidak akan pernah menyesuaikan diri dengannya. Hiduplah yang harus bersesuaian denganku, waktulah yang harus selalu setia menantiku untuk siap. Hal ini membuatku memaksakan diri pada kondisi yang sebenarnya sudah tak mampu aku kendalikan. Sayangnya, aku masih sangat takut dengan perubahan. Kata itu adalah mimpi burukku. Berubah ke arah lebih baik sekalipun, masih menjadi hal yang sangat menyakitkan. Membayangkan diri menjalani kehidupan sebagai orang yang tak lagi sama. Meninggalkan kebiasaan yang telah lama menjadi bagian dari hari-hariku. Semuanya terasa mengerikan dan terlalu cepat. Ah, rasanya lebih baik menjadi diri sendiri saja.

Sekitar enam bulan yang lalu, setelah dua setengah tahun, akhirnya aku kembali ke negeri Indonesia tercinta untuk liburan. Liburan pertamaku ke Indonesia setelah sekian lama berada di Jerman. Bertemu orang tua yang selama ini hanya bisa aku dengar suaranya, berantem secara langsung dengan adik dan tertawa bersama teman-teman lama. Sayangnya, liburan ini tidak seluruhnya terisi oleh hal hal yang menyenangkan. Beberapa masalah malah muncul dan membuatku takut untuk kembali ke Jerman. Masalah yang nantinya akan membuatku berpikir ulang tentang apa yang akan aku lakukan.

Dengan perasaan bagai benang kusut, kembali kuhirup udara Eropa. Masalah yang beberapa waktu lalu muncul kini semakin rumit. Masalah ini membuatku merasa bahwa waktu 24 jam sehari sangat tidaklah cukup. Aku stress, bingung tidak tahu harus berbuat apa. Bertanya pun rasanya tidak ada jawaban. Murung dan menangis bukan hal asing lagi bagiku sejak tiba di Jerman, hingga mereka menjadi hobiku. Saat inilah, saat dimana aku merasa sebagai orang yang paling menderita di dunia.

Hingga suatu waktu, aku berusaha melihat hidupku dari sudut pandang lain. Sebelumnya aku selalu bertanya pada orang lain, kapan masalahku akan selesai. Aku hanya bisa menuntut mereka menyelesaikan masalahku dan tidak ikut membantu, karena merasa aku berada sangat jauh dari rumah dan tidak ada yang bisa aku lakukan.

Lalu aku mengganti pertanyaan yang aku tanyakan pada diri sendiri, “Kenapa masalahku belum selesai juga?“. Ternyata cara ini efektif. Dari pertanyaan seperti itu aku menemukan jawaban bahwa aku belum berubah. Yap, aku masih sama seperti ketika aku belum bertemu masalah sebesar ini. Sikapku masih seperti anak manja yang tidak mau hidupnya tidak nyaman sedikit pun. Aku mulai meyakini bahwa masalahku ini selain membuatku susah, juga membuatku menjadi manusia yang lebih baik. Setidaknya, aku jadi sadar, bahwa aku hanya bisa bergantung pada diriku sendiri dan Tuhanku.

Saat ini bagiku waktu berjalan sangat cepat dan roda kehidupanku berjalan sebaliknya. Tapi aku tahu bahwa keadaanku tidak akan selamanya seperti ini. Rodaku akan kembali berputar, dia akan kembali bergerak keatas. Lalu pada satu titik dia akan kembali turun dan naik lagi, begitu seterusnya. Dan barulah sekarang aku sadar akan makna waktu terus berjalan dan hidup terus berputar. Waktu tidak akan menungguku untuk siap menghadapi perputaran roda kehidupan dan perputaran itu akan terus terjadi hingga waktu menghentikan nafasku. Yang perlu dilakukan hanyalah terus berubah, berubah menjadi diri yang lebih baik dari diri yang kemarin. Karena aku mempercayai sebuah kutipan bahwa jika hari ku sekarang tidak lebih baik dari hari kemarin, maka aku termasuk orang yang merugi.

“Semua cerita dalam setiap hidup, takkan selamanya indah, takkan selamanya buruk” – Nosstress, Bersama Kita

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan