Wuppietrees Family

Wuppietrees Family

0
BAGIKAN
Wuppietrees Family

Assalamualaikum,

Salam hangat dari dataran tinggi barat Jerman, hehehe.. kami memang tidak tinggal di kaki Gunung Alpen sih, tapi kami bermukim di kota yang berbukit-bukit. Kota itu bernama Wuppertal, kota yang empat tahun belakangan ini menjadi tempat kami merajut cerita kehidupan. Cerita yang terkadang membuat kami tertegun dengan keajaiban Tuhan yang tidak pernah biasa, keajaiban yang dapat terlihat dengan sederhananya saat kita mau menghayati sebuah kejadian. Seperti bahagianya saya menikmati cookies buatan sendiri di musim salju akhir Januari kemarin, atau betapa bahagianya kami menemani si krucil main di taman dengan gaya berjalannya yang masih sempoyongan.

Kami adalah keluarga yang baru saja melihat dunia lebih dalam lewat tawa renyah seorang anak kecil, memaknai sabar lewat tangisan manjanya saat ia terjatuh karena tersandung mainannya sendiri :D.

Euforia orang tua baru, harap di maklumi ya :D. Hingga awal paragraf tulisan ini saja tak bisa saya pisahkan dengan sebagian gambaran tentang letupan-letupan bahagia hati ini karena kehadirannya.

Bumi Saadan Narendra, putra pertama kami yang lahir di musim dingin tahun lalu. Mungkin belum sepenuhnya lengkap keluarga impian kami karena kami ingin sekali punya banyak adik untuk Bumi :D, namun kehadiran Bumi memberi warna baru, memberi harapan, dan menjadi pemacu Ayah dan Ibunya untuk lebih giat menjalani sekolah kehidupan ini. Seperti yang kita tahu, pelajaran menjadi orang tua ini tidak akan pernah ada habisnya, bahkan sampai nanti mereka meninggalkan kami orang tuanya.

Oiaaa, sebelum semakin jauh saya mengoceh tentang ini dan itu, izinkan saya memperkenalkan anggota keluarga kecil ini. Sebelumnya saya telah lebih dulu memperkenalkan krucil nomor 1 kami, Bumi <3

Krucil Bumi memiliki ayah, ayah juara satu dunia Bumi ini adalah mahasiswa rantau yang baruuuuuuuu saja menyelesaikan petualangan panjangnya di dunia kampus, setelah banyaknya semester yang di tempuh (tak perlu saya sebutkan ya, nanti kalian terkejut :p tapi ini bukan rahasia koq, bisa langsung PM orangnya, inShaa Allah di jawab :D). Akhirnya tahun lalu ia mendapatkan gelar Bachelor of Science in Mechanical Engineering di salah satu kampus di kota Duisburg. Syukurnya atas izin Allah SWT, ia mendapat nilai sempurna untuk bachelor thesisnya, sehingga sering kali ini menjadi senjata ampuhnya seraya berkata “Gapapa lah Bun, lama yang penting kan hasil akhirnya hahaha!“, sekarang ini ia sedang sibuk menjadi job hunter yang super produktif dan agresif :p

Setelah melewati beberapa wawancara di beberapa perusahaan Amerika dan Jerman, sayangnya kabar baik belum datang jua, namun lagi-lagi Yang Maha Kuasa menjawab segala usaha dan doanya melalui jalan yang tak pernah terduga. Vice President tempat Ayah menjalani pekerjaan part time-nya sebagai working student mengirim email dan menemuinya di ruangan kerja untuk menawarkan posisi baru di Department LMS (Learning Management System). Ya, department yang sudah lama ia idamkan dan sering kali kami membahas betapa banyak benefit LMS ini. Ayah kembali hanya tertegun sembari terus mensyukuri bahwa tiada usaha yang sia-sia. Masha Allah, nikmat-Mu memang tak akan pernah sepantasnya kami dustakan. Tanpa ragu ia pun langsung menyetujui kontrak kerja baru dimana ia akan bertempur lebih lama di kantornya.

Saya sendiri adalah seorang ibu muda yang sedang dilanda gundah gulana karena harus meninggalkan Bumi di Day Care. Semester depan di akhir bulan Maret, saya akan kembali memulai aktifitas kampus. Setelah dua semester kemarin saya dedikasikan penuh waktu saya untuk mengurus Bumi, kini waktunya untuk segera berlari mengejar ketinggalan semester yang kian banyak. Semakin cepat selesai, semakin dekat dengan program adik untuk Bumi 😀

Saya memilih jurusan di bidang sosial, tepatnya pekerja sosial dan ilmu budaya atau dalam Bahasa Jerman: sozialarbeit und kulturwissenschaften. Kecintaan saya akan dunia social terinspirasi dari Mama Papa yang sejak lama berkecimpung di bidang pendidikan. Yap, mereka adalah para pengajar di universitas. Profesi mereka akhirnya juga menjadi cita-cita saya, saya ingiiiin sekali menajdi pengajar di pelosok pedalaman, mengenalkan anak-anak akan jendela duni, menularkan kecintaan membaca dan berdikusi. Menganalisa dan membuat percobaan baru tentang hal-hal sederhana yang dapat menyalurkan kreatifitas mereka lebih positif. Dan hal yang paling saya suka dari mengajar adalah mendapati diri saya sendiri yang lebih banyak terinspirasi akan tingkah laku para anak didik saya.

Membangun keluarga di tanah rantau memanglah bukan hal yang mudah, apalagi saya dan suami yang masih terhitung muda dan masih berstatuskan mahasiswa. Lika-likunya memang kadang membuat lelah, tapi beruntungnya saya mendapatkan partner yang selalu mencintai diskusi tentang mimpi-mimpi besar kami yang terjadi di dapur saat sedang masak bersama, atau di atas kasur sambil menidurkan Bumi. Akhirnya rasa syukurlah yang menyelamatkan kami dari rasa-rasa putus asa. Syukur besar kami pada Allah SWT akan semua hal indah yang tak selalu mewah. Hal indah yang terlahir kadang bukan hanya karena mendapatkan sesuatu, tapi juga atas kesempatan untuk dapat berbagi sesuatu.

Semua cerita ini akan terus kami rajut dalam bingkai kebersamaan, semoga nantinya dapat kami kenang dan kembali kami ceritakan saat berkumpul dengan anak dan cucu kami 😀

Wuppietrees, Mutia, Iqbal, dan si Kecil
Wuppietrees, Mutia, Iqbal, dan si Kecil

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan