Yang Kurasakan Setelah Kembali Pulang

Yang Kurasakan Setelah Kembali Pulang

0
BAGIKAN
Ini adalah foto saya bertemu mas Hamka di Campfire Outdoor Cuisine Batu, Malang.

4,5 tahun saya habiskan masa kuliah di Jerman. Ada banyak sekali hal yang terjadi selama 4,5 tahun. Tak akan selesai dituliskan semua yang terjadi selama berada di Jerman. Ada banyak cerita, tawa, tangis, suka, duka, bercampur menjadi satu. Kini saya telah kembali ke Indonesia.

Masih terbayang dan terasa betapa tersiksanya menahan rindu jauh dari kampung halaman. Di tengah musim dingin, di saat banyak tugas kampus, ujian-ujian yang tak kunjung lulus, semangat yang hampir pupus, namun semua telah berlalu. Saya selalu menantikan suasana ketika pulang, suara pesawat, suara angin, langit biru, awan berarak. Syukur yang tak henti kepada Allah, saya berada di titik ini sekarang. Titik di mana saya harus berkarya, melakukan lebih banyak lagi untuk Indonesia. Mengaplikasikan ilmu yang telah saya terima.

Di sisi lain, saya mengalami hal yang sebenarnya wajar terjadi. Namun saya mengalaminya ketika kembali ke Indonesia. Culture Shock. Saya mengalaminya sekarang. Dulu sebelum pergi ke Jerman, saya sering mendengar istilah tersebut. Kondisi di mana seseorang akan merasa kaget dengan budaya yang berbeda jauh dengan budaya aslinya di tempat yang baru. Bisa dikatakan saya tidak terlalu mengalami culture shock selama baru tiba di Jerman, namun justru saya mengalaminya ketika kembali ke Indonesia.

Mungkin ketika saya pertama kali ke Jerman, sudah terbayang teraturnya negeri Jerman. Bagaimana suasana Jerman yang berbeda yang akan saya hadapi. Saya sudah punya banyak persiapan, menghadapi musim dingin dan apapun di negara liberal tersebut.

Hal pertama yang membuat saya sedikit terguncang adalah ketika berada di pesawat pulang. Ada banyak penumpang Indonesia di sana, pesawat dari Istanbul ke Jakarta. Suasana di pesawat sebelum take off sangat tidak tenang, ada yang bicara keras, ada yang sibuk komplain tentang koper kabin, ada yang mencari cari teman seperjalanan. Itu yang membuat saya menjadi tidak nyaman. Saya cukup bersabar karena ya memang orang Indonesia agak sedikit ribut. Hehehe.

Hal kedua adalah di Bandara Soekarno Hatta. Setelah turun dari pesawat, ada loket pemeriksaan paspor / loket imigrasi. Di situ sudah sewarjarnya orang mengantree, namun masih ada saja yang menyerobot antreean. Hehe. Dalam hati saya cuma bisa mengalah. Saya sudah cukup lelah perjalanan Jerman – Indonesia dan tak mau menambah keributan.

Hal ketiga adalah menyeberang jalan. Sangat sulit menemukan tempat penyeberangan di jalan Indonesia. Alhasil saya masih „cupu“ dalam menyeberang jalan. Kalaupun ada tempat penyeberangan kadang masih saja ada pengendara mobil/motor tidak memberi kita kesempatan untuk menyeberang. Saya belum mampu menaklukkan kejamnya jalanan Indonesia yang ramai. Semoga bisa secepatnya saya beradaptasi dengan ramainya jalanan, suara klakson dan aksi salip menyalip kendaraan di Indonesia.

Hal keempat adalah transportasi. Saya adalah orang dengan mobilitas tinggi. Tak tahan jika hanya berdiam diri di rumah. Setelah di Indonesia, apalah daya. Transportasi tak jelas, kurang memadai, kalaupun bersepeda nantinya hanya jadi sasaran klaksonan mobil/motor. Apalagi Indonesia memiliki banyak tempat eksotis dan menarik untuk dikunjungi. Namun karena tak adanya transportasi yang memadai, sangat sulit untuk mengunjunginya.
Miris memang melihat yang seperti ini di Indonesia. Tayangan televisi yang kadang membuat bosan karena isinya hanya gossip artis dan selebriti, juga sinetron yang semakin tidak masuk akal, kurang mendidik. Akhirnya masyarakat Indonesia juga ikut-ikutan membosankan karena isinya menggunjing dan saling menyindir. Indonesia yang katanya ramah, tetapi tidak ramah kepada sesama bangsa Indonesia. Ramahnya terkesan pilih-pilih hanya ke orang asing. Masyarakat kita cenderung konsumtif. Selalu menganggap yang berada di luar negeri itu hidup enak dengan barang-barang mewah. Nyatanya tidak semua seperti itu. Bahkan banyak yang hidup sangat sederhana di luar negeri. Indonesia adalah negara yang selalu memanjakan konsumen. Jujur sih saya masih manja juga. Hehe.

“Walaupun begitu, Indonesia tetap tanah air saya. Yang katanya tidak ku lupakan.” Indonesia butuh generasi yang sedikit demi sedikit dirubah mentalnya. Revolusi mental. Nggak usah jauh-jauh dulu, cukup diri sendiri. Saya masih seperti ini, bisanya ngomong, action nya belum ada. Hahaha.

Saya ingin melakukan sesuatu untuk Indonesia. Masih belum tahu apa, yang jelas semoga saja bermanfaat untuk semua. Atau merantau lagi pada akhirnya? Hahaha. Tak tahulah, ikuti saja langkah kaki hendak ke mana. Semoga saja ke tujuan dan cita-cita mulia.

Beberapa waktu lalu saya berhasil menemui langsung di dunia nyata teman dan rekan di dunia maya yang memiliki pemikiran unik. Sebelumnya kami mengenal hanya via online sewaktu saya berada di Jerman. Di Malang kami bertemu. Banyak inspirasi dan ide yang dibicarakan di sana. Tetapi dari semua itu saya memetik satu hal bahwa, semua orang yang kita temui di dunia ini adalah anugerah, membuat kita belajar dan seharusnya mengerti untuk apa sebenarnya kita hidup. „Langes Leben, lang lernen“. Itulah istilah dalam bahasa Jerman bahwa sepanjang hidup, selamanya belajar. Seperti saya yang kembali belajar menjadi orang Indonesia kembali. Hehe. Bukan bukan, saya akan tetap menjadi orang Indonesia, maksudnya adalah belajar mengerti dan beradaptasi kembali dengan Indonesia.

Bareng Sabeq

Dan yang ini ketika saya bertemu narasumber saya dulu sewaktu siaran di Radio PPI Dunia, mas Sabiq. Hehehe. Tak hanya dengan mas Sabiq, saya juga bertemu dengan komunitas Makassar di Malang.

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan