Zona Nyamanku Tertinggal Jauh di Belakang

Zona Nyamanku Tertinggal Jauh di Belakang

0
BAGIKAN

Ini tahun pertamaku berpuasa di tanah orang meskipun tetap di Indonesia. Aku berada cukup jauh dari kampung halaman. Bahasa, budaya, kebiasaan, lingkungan, semua berbeda. Dari tanah Sunda ke tanah Jawa. Dari bagian barat ke bagian timur Pulau Jawa. Ini usahaku untuk mencapai cita-cita. Aku sadar, sudah waktunya aku mandiri. Sudah waktunya aku merasakan kehidupan tanpa begitu banyak bantuan dari orangtua. Yah, meskipun uang bulananku tetap diberi orangtua. Setidaknya kini aku tahu bagaimana rasanya hidup sendirian di tanah orang.

Merantau, orang bilang berjuang dan berusaha untuk mencapai banyak tujuan. Seperti banyak hal yang telah aku temui, teman baru, cerita baru, dan pengalaman baru. Tahun pertamaku merayakan tahun baru tanpa keluarga, tahun pertamaku pula menyambut Bulan Ramadhan tanpa mereka. Di awal bulan sedikit terasa sepi. Aku tinggal bersama teman di rumah keluarganya. Rumahnya kosong karena keluarganya tinggal di Jakarta. Dia memintaku menemaninya. Berdua di dalam sebuah rumah yang relatif besar untuk kami remaja putri.

Pantas aku menyebutnya sepi. Jika bersama keluarga, kami selalu mengadakan acara untuk menyambut datangnya Bulan Ramadhan. Orang Sunda menyebutnya Munggahan. Tapi hanya aku sendiri tanpa keluarga disini. Banyak peristiwa-peristiwa berkesan terjadi yang ingin aku ceritakan di sini.

Dimulai dari teman serumah yang diserang demam berdarah dan dirawat di rumah sakit. Ibunya datang dari Jakarta dan menemaninya. Aku pun melewati Ramadhan pertama sendirian. Untungnya rumah temanku ini bersebelahan dengan rumah neneknya. Gaduh suara masyarakat berkeliling membangunkan sahur tak mampu membuat mataku terbuka lebar. Berat rasanya meninggalkan kasur empuk. Aku benar-benar terbangun ketika seseorang mengetuk pintu kamar. Ternyata nenek di sebelah rumah. Beliau menawariku makanan untuk sahur. Aku berterima kasih atas perhatiannya. Sahur pertamaku terlewati dengan penuh rasa syukur.

Buka puasa pun hampir tiba. Aku kembali ke rumah sekitar pukul 16:30 dengan rasa sedikit lelah karena aktif seharian. Aku merebahkan badan di atas kasur sembari memainkan gadget. Terlalu asyik dengan gadget menjadi lupa waktu. Waktu pun menunjukkan pukul 17:15. Santai saja, pikirku. Tanpa sadar, adzan berkumandang dan aku masih sibuk dengan gadget. Aku merasa sedikit bodoh karena menyangka adzan maghrib masih lama lagi seperti di kotaku, pukul 17:30. Nyatanya suara muadzin telah menggema dari cerobong masjid. “Hayya ‘alaa sholaa“, aku tersadar dan merasa sedikit bodoh karena lupa di kota mana aku berpijak. Aku pun beranjak dari kasur dengan terburu-buru, memenuhi gelas dengan air putih lalu berdoa untuk membatalkan puasa dengan segera.

Aku melewatkan satu kali sahur karena mata yang tak bisa membuka, kompak dengan badan yang melekat dengan kasur. Padahal kegiatan di siang hari masih tetap sama. Berangkat ke kampus, rapat, dan mempersiapkan acara kampus, dan berbuka puasa bersama teman-teman. Aku pun menceritakan kepada teman tentang sahur yang terlewatkan karena tak sanggup membuka mata. Ia hanya tertawa dan menggeleng. i sahur karena mataku yang tidak bisa di paksa untuk membuka dan badanku yang melekat sangat erat.

Keesokan harinya setibaku di rumah, ada seseorang yang mengetuk pintu. Tanpa disangka kakak sepupu dari seorang teman. Ia baru saja pulang dari rumah sakit menjenguk teman serumahku yang dirawat karena demam berdarah awal Ramadhan. Kakak sepupunya membawakan makanan cepat saji, kami sering menyebutnya lalapan badut. Merasa heran dan bertanya padanya, rupanya makanan itu dititipkan oleh temanku karena ia tak ingin aku melewatkan sahur lagi. Aku kembali bersyukur karena memiliki teman yang begitu perhatian.

Di malam yang lain, diadakan rapat divisi untuk sebuah kegiatan yang dilaksanakan di rumah. Kami menginap di rumah tersebut demi menyiapkan segala keperluan acara termasuk konsumsi, hingga pukul 2 malam. Kami pun memanfaatkan sisa waktu untuk tidur sebentar sebelum sahur. Sayangnya, kata sebentar itu terkhianati oleh rasa lelah. Pukul 4 subuh, salah seorang diantara kami terbangun. Panik. Ia pun membangunkan kami tergesa-gesa. Jelas saja, pukul 4:15 memasuki waktu imsak.

Kami pun menggoreng ayam dan membuat sop bihun dengan mencampur sayur yang kami potong-potong sebelum tidur tadi. Kami memasak terburu-buru, berkejaran dengan adzan subuh. Alhamdulillah, kami sempat menyelesaikan santap sahur tepat sebelum imsak.

Di lain kesempatan, aku diajak ‘muncak‘ ke Gunung Panderman di Kota Batu, Jawa Timur. Kakak tingkat yang mengajakku mendaki gunung itu di tengah bulan Ramadhan ini. Aku berpikir ia akan merelakan satu hari puasa demi pendakian. Ternyata tidak. Bersama seorang kakak tingkat lagi, kami pun memutuskan mendaki ke Panderman di tanggal 28 Juni 2015. Perjalanan kami dimulai di malam hari menuju pos awal sebelum mendaki. Kami memarkir kendaraan di rumah warga di sekitar pos.

Pukul 11 malam, pendakian pun dimulai. Sepi, gelap dan menegangkan. Hanya ada kami bertiga. Perjalanan kami diwarnai dengan canda tawa yang bercampur dengan keringat debu. Kaki pun sempat kram ketika mendaki tanah yang cukup tinggi. Mungkin kelelahan. Di pertengahan jalan, kami melihat satu tenda. Rupanya kami tidak sendiri. Kami pun beristirahat di dekat tenda itu dan memutuskan untuk melanjutkan pendakian. Target kami adalah menyantap sahur di puncak.

Mendekati puncak, satu rombongan terlihat menyusul kami. Kami tiba di puncak sekitar pukul 3:45. Lalu bergegas mendirikam tenda dan menikmati nasi dingin beserta ayam goreng dan rendang daging yang dingin pula. Rasa lelah dan kekenyangan membuat kami mudah mengantuk. Kami pun tertidur pulas.

Kami terbangun karena cahaya matahari dengan indahnya menyambut kami di puncak Panderman. Sebelum matahari kian meninggi, kami memutuskan untuk meninggalkan puncak pukul 9 pagi dan menuruni gunung Panderman hingga pos awal. Alhamdulillah, aku diberi kesempatan untuk dapat merasakan sahur di puncak gunung dan berhasil turun tanpa membatalkan puasa.

Cerita berikutnya sahur dan berbuka puasa di kereta. Aku kembali ke tanah asal di tanggal 4 Juli, membutuhkan waktu satu hari perjalanan. Berangkat pukul 4 sore dan tiba pukul 8 pagi mengharuskan aku berbuka dan sahur di dalam kereta. Setiap gerbong dilengkapi alarm penanda waktu berbuka, bukan adzan seperti biasanya. Aku pun berbuka dengan bekal yang aku siapkan sebelum berangkat. Tak sempurna namun memberikan warna baru dalam kisahku sebagai mahasiswa rantau.

Aku seorang gadis menuju pendewasaan, melanjutkan studinya di tanah jawa, Malang, Jawa Timur. Meninggalkan fasilitas ternyaman di rumah, manjaan orangtua di tanah sunda, Bandung, Jawa Barat. Seorang perempuan yang masih terus belajar dari alam, teman, masyarakat dan pengalaman-pengalaman. Seorang perempuan dengan nama indah pemberian orangtua, Nurshadrina Ghassani. Segumpal daging yang berjalan di atas bumi untuk terus berusaha mewujudkan semua cita-cita. Senang bertemu dengan teman baru, pengalaman baru dan tak akan berhenti untuk menjelajahi negeri ini.

Seorang mahasiswi yang berjuang dalam bangku perkuliahan agar dapat menyelesaikan studi S1 Hubungan Internasional di Universitas Brawijaya. Kini aku tumbuh semakin dewasa, tidak boleh lagi ada kata manja, tidak boleh lagi mengharapkan bantuan orang lain, tidak boleh lagi banyak mengeluh.

Semua yang terjadi dalam kehidupanku adalah ketentuan bukan kebetulan. Tidak ada kata menghindar jika ada masalah datang. Hadapi dan lewati. Kini aku sudah melangkah sangat jauh dari zona nyamananku. Mencoba mencari begitu banyak hal baru. Tantangan, rintangan, semua pasti bisa di lewati. Karena aku percaya aku bisa.

BAGIKAN
Berita sebelumyaManusia Kampus
Berita berikutnyaBerkenalan dengan Penakluk 7 Puncak Dunia
Anak pertama dari dua bersaudara. Insyaallah tahun ini akan menginjak usia 19 tahun. Senang akan hal baru, teman baru dan pengalaman baru. Suka banget sama yang namanya travelling. Keliling Indonesia maupun Dunia. Salah satu keinginan besarku yaitu dapat berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia yang lebih baik lagi. Selalu berpikir bahwa aku bisa, karena aku percaya aku pasti bisa.

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan